Minggu, 04 Mei 2025

JIKA MASJID ISTIQLAL DAN KATEDRAL DIBERI NYAWA, SIAPA YANG JAMIN MEREKA TIDAK JATUH CINTA?

Malam turun di Jakarta. Lampu-lampu jalan memantulkan sinarnya di permukaan sungai yang mengalir pelan. Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur, dua bangunan megah berdiri berhadapan, terdiam dalam keagungan masing-masing.

Namun, jika kau mau mendengar dengan hati, ada bisikan lembut yang mengalir di antara mereka.

Istiqlal,” suara itu terdengar, elegan dan tenang.

“Ada apa, Katedral?” sahutnya, suaranya dalam, penuh wibawa, tetapi lembut seperti azan subuh yang membangunkan kota dengan kasih sayang.

Katedral menoleh, kalau saja bangunan bisa menatap, ia pasti sudah menembus jiwa lawan bicaranya. “Aku selalu ingin tahu… Seandainya kita bukan batu dan marmer, seandainya kita diberi nyawa, apa kita akan tetap berdiri di sini? Atau mungkin kita akan saling mendekat?”

Istiqlal tertawa kecil, suara yang seperti angin berbisik di antara tiang-tiang raksasanya. “Bukankah kita sudah dekat? Aku ada di sini untuk menjagamu, seperti kau menjagaku.”

Katedral mendesah, sedikit tak sabar. “Kau tahu maksudku, bukan?”

Istiqlal diam sesaat. Dalam keheningan itu, menara dan kubahnya seakan meresapi setiap denting waktu, setiap doa yang telah dipanjatkan di dalamnya. Lalu ia berkata, “Kau seperti wanita yang tak tersentuh waktu, Katedral. Elegan, megah, klasik… tapi ada sesuatu dalam dirimu yang tersembunyi. Dindingmu kokoh, tetapi aku tahu, ada celah yang menunggu untuk dibuka oleh seseorang yang tepat.”

Katedral tersenyum. “Dan siapa yang bisa membuka celah itu?”

Istiqlal tak langsung menjawab. Ia mengamati bangunan di depannya—menjulang dengan menara-menara runcingnya, penuh detail yang dibuat dengan kecintaan, setiap bagiannya bercerita tentang masa lalu dan harapan yang tak pernah padam.

“Aku tidak tahu,” katanya akhirnya, suaranya terdengar seperti doa yang ditiupkan angin malam. “Tapi aku tahu bahwa jika aku diberi nyawa… Aku akan memilih untuk tetap di sini, di sisimu.”

Katedral membisu. Untuk pertama kalinya, dindingnya yang selalu tegar terasa sedikit bergetar.

Di kejauhan, lonceng berbunyi pelan, bersahutan dengan adzan Isya yang mengalun dari menara. Mereka tetap diam, tetapi dalam keheningan itu, dalam jarak yang begitu dekat namun tak tersentuh, ada sesuatu yang lahir—sebuah perasaan yang mungkin, hanya mungkin, jika mereka diberi nyawa… akan disebut cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JIKA MASJID ISTIQLAL DAN KATEDRAL DIBERI NYAWA, SIAPA YANG JAMIN MEREKA TIDAK JATUH CINTA?

Malam turun di Jakarta. Lampu-lampu jalan memantulkan sinarnya di permukaan sungai yang mengalir pelan. Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak ...